
Gerakan Tunas Bangsa
Gerakan Tunas Bangsa merupakan gerakan mentoring yang berfokus pada pembentukan karakter dan jiwa kepemimpinan melalui aktivasi nilai-nilai kebaikan dalam diri generasi muda bangsa Indonesia.
Keluarga Besar Gerakan Tunas Bangsa
Foto bersama pengurus dan mentee Gerakan Tunas Bangsa.
Mentee Gerakan Tunas Bangsa
Mentee Gerakan Tunas Bangsa adalah penerima beasiswa plus. Selain menerima beasiswa mereka juga menerima berbagai pelatihan pengembangan diri.
Mentor dan Mentee
Mentor memberi berbagai materi pengembangan diri kepada mentee
Penyerahan Beasiswa
Mentee menerima beasiswa plus.
In Class Training
Mentee menerima materi pengembangan diri yang dilakukan di dalam ruangan. Kami berkerja sama dengan sekolah mentee dalam melakukan kegiatan pelatihan.
Tampilkan postingan dengan label Karya Mentee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Mentee. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Maret 2019
4 Cara Aktivasi Tombol Sukses
Selalu
ada yang berbeda di setiap pertemuan Gerakan Tunas Bangsa. Hari itu (Rabu, 26
Desember 2018), pelatihan kewirausahaan dilaksanakan outdoor atau di luar ruangan. Bertempat di Pondok Pesantren Entrepeneur
Al-Mawaddah Jekulo, Kudus. Saya tidak hanya ditemani kakak mentee dan mentor, melainkan
juga kedatangan tamu dari tempat yang masih terasa asing di telinga. Jumaidah
namanya, salah satu siswa Kak Suhar saat mengabdi di Bengkalis sebagai pengajar
muda bersama Indonesia mengajar.
Sekitar pukul tujuh pagi lebih dua puluh menit, saya sampai di
rumah kak Umi-salah satu mentor Gerakan Tunas Bangsa yang juga alumni pengajar
muda-. Disana kami melihat wajah asing yang rasanya baru kali ini saya temui. Kami
bersalaman dengan Midah-nama panggilan Jumaidah-. “Halo kak, nama saya Midah”. Percakapan
kami berlanjut, dan rasanya cukup panjang untuk saya ceritakan disini.
Setelah semuanya datang, kami langsung menuju lokasi pelatihan, yaitu Ponpes Entrepeneur
Al-Mawaddah dengan menggunakan angkutan. Sepanjang perjalanan, kami bercerita
tentang kesibukan masing-masing. Mulai dari persiapan UN dan SBMPTN, kesibukan
di organisasi, dan banyak hal lainnya. Disini, saya juga menanyakan berbagai
hal mengenai cerita seputar kehidupan perkuliahan bersama Kak Rusda. Kak Rusda
adalah mentee angkatan pertama yang sekarang sudah menjadi alumni dan tengah
menjalani perkuliahan di Universitas Diponegoro Semarang jurusan Budidaya Perikanan.
Sampailah kami di lokasi pelatihan. Hanya butuh sekitar 15 menit
untuk sampai di lokasi. Kami langsung disambut hangat oleh petugas, atau lebih
tepatnya salah dua santri dari Pondok Entrepeneur ini. Kami diajak untuk
melihat perkebunan buah naga. Saya lupa namanya Kak siapa, yang pasti dia
menjelaskan mengenai pengelolaan buah naga. Bukan hanya memberikan penjelasan,
beliau juga memberikan visualisasi tentang bagaimana cara menanam buah naga
yang baik dan benar. Selepas mendengarkan penjelasan mengenani pengolalan tanaman buah
naga, tibalah saatnya kami menikmati hasil dari pengolahan buah naga. Kami
disuguhi jus dan keripik buah naga. Senang rasanya, menikmati keripik manis
diiringi dengan candaan dari orang-orang humoris. Ini baru liburan bermanfaat!
Keripik habis, jus pun habis. Kami melanjutkan seminar motivasi
dari pemilik sekaligus pendiri Pondok Entrepeneur Al-Mawaddah. Sebenarnya, Apa
itu Pondok Entrepeneur Al-Mawaddah? Pondok ini didirikan oleh Bapak Sofiyan
Hadi, yang rata-rata seluruh santri dari pondok ini adalah mahasiswa yang sedang
kuliah sekaligus mendapatkan beasiswa. Para santri tidak dibebani biaya
sedikitpun untuk dapat menjadi santri di pondok ini. Bahkan, mereka juga tidak
boleh menerima uang dari orang tua. Sebab disini, mereka diajarkan untuk menjadi
seorang wirausahawan. Kurang lebihnya seperti itu.
Ada satu perkataan menarik yang diucapkan oleh Bapak Sofiyan Hadi,
“kuliah itu capek, kalo capek harusnya kita dibayar”. Sempat bingung saya
memaknainya. Kemudian beliau menjelaskan. “Jika pekerja yang merasakan capek
saja mendapatkan gaji, maka seorang mahasiswa yang merasakan kepenatan pun
harusnya dibayar”. Maksudnya disini adalah, sebisa mungkin kita dapat kuliah
melalui jalur beasiswa. Sejak S1, beliau kuliah melalui jalur beasiswa. Dan ini
yang beliau terapkan pada santri-santri di Pondok Pesantren Al-Mawaddah.
Dalam penjelasannya, beliau memberikan 4 cara sukses, atau yang
beliau sebut dengan 4 cara aktivasi tombol sukses. Keempat itu merupakan Dream, Believe, Attitude dan Action. Beliau memberikan sebuah kisah yang
sangat inspiratif bagi saya kala itu. Kisah ini diambil dari perjalanan
seseorang yang bernama Adam Kho. Siapakah dia? Dia adalah seorang pengusaha
kaya asal Singapura. Beliau adalah anak dari keluarga yang berkelimpahan
materi. Malangnya, kemampuan akademiknya kurang. Bahkan Adam Kho harus melewati
pendidikan di kelas 4 selama 4 tahun lamanya. Dengan kata lain, beliau tidak
naik kelas, empat tahun berturut-turut. Singkat cerita, beliau akhirnya lulus
SD. Orang tuanya segera mendaftarkan Adam Kho di sekolah terfavorit di Singapura.
Namun, setelah melihat laporan akademik Adam Kho, dia tidak diterima. Sudah terlalu
banyak tinta merah di rapotnya. Kemudian, orang tuanya mendaftarkan Adam Kho di
sekolah pilihan kedua, dan ditolak lagi. Begitu seterusnya hingga Adam Kho
ditolak di 6 sekolah.
Dengan berat hati orang tuanya mendaftarkan Adam Kho di sekolah
ketujuh. Di sekolah yang berada di daerah terpencil. Guru-guru dan temannya
disana sangat bahagia ketika mendengar kedatangan Adam Kho yang notabenenya adalah
anak dari keluarga berada. Beberapa hari terjalani dengan baik-baik saja,
sampai akhirnya ujian harian datang. Pada saat guru meminta kertas ujian, Adam
Kho belum menuliskan satu jawabanpun di kertas ujian. Dia berkata jika soal ini
terlalu susah untuk dirinya. Maka, sang guru mencoba untuk memberikan soal
kelas 6 SD. Adam Kho juga tidak dapat menyelesaikannya dengan mudah. Kemudian
sang guru mencoba untuk memberikan soal kelas 5 SD. Hassilnya tetap sama, Adam
Kho tidak dapat mengerjakan soal tersebut. Terpaksalah Adam Kho dikeluarkan dari sekolah tersebut.
Karena hal tersebut, ibunya sangat bersedih. Tapi Adam Kho justru bergembira
sekali.
Ditolak di tujuh sekolah, maka ibunya pun mendaftarkan Adam Kho
untuk mengikuti Training and Workshop Motivation. Waktu pelatihan
adalah dua minggu dengan biaya yang harus dikeluarkan senilai 30 juta jika
dirupiahkan. Amazing!
Isi pelatihan tersebut yang diceritakan kepada kami adalah, Adam
Kho diminta untuk berkata, “satu-satunya hal yang menghambat kesuksesan adalah
keyakinan yang salah dan perilaku negatif”. Kemudian, Adam Kho juga diminta
untuk membayangkan tokoh idolanya, sembari mengatakan, “kalau kamu bisa, aku
juga bisa. Kalau kamu berhasil, aku juga bisa berhasil. Dan kalau kamu sukses,
aku juga bisa sukses”. Kemudian Bapak Sofiyan mengajak kami untuk melakukan hal
yang sama seperti yang dilakukan Adam Kho.
Tidak terasa pelatihan Adam Kho akhirnya selesai. Adam Kho meminta
ibunya untuk kembali ke sekolah yang telah menolaknya. Kemudian, beliau masuk
ke kelas dan meminta perkenalan ulang. Adam Kho mengatakan sesuatu yang membuat
seisi ruangan terkejut, “saya Adam Kho! Teman baru kalian. Saya akan menjadi
lulusan terbaik dari SMP ini. kemudian saya akan melanjutkan pendidikan ke SMA
terbaik di negeri ini dan saya juga akan menjadi lulusan terbaik sehingga
diperebutkan oleh semua universitas. Tapi saya sudah menentukan pilihan
universitas saya, yaitu di National University of Singapore. Setelah itu saya
akan menjadi pengusaha muda yang kaya raya”.
Beliau mendeklarasikan
mimpinya dengan sangat jelas. Hingga akhirnya, apa yang Adam Kho katakan pun
menjadi kenyataan. Adam Kho telah berhasil menjadi pengusaha muda yang kaya
raya. Jelas sudah, seharusnya kita mengimani dan mengamini setiap mimpi
yang kita bangun. Kemudian berjuanglah untuk membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Dan jangan lupa berdoalah. Sebab Ridwan Kamil pun pernah berkata: “Sukses itu
60% doa dan 40% usaha. So, if you can
dream, you can do it. Sebab siapapun bisa jadi apapun.”

Sesi outbond usai. Saatnya
makan siang sambil terapi ikan ditemani juga dengan minuman coklat dingin.
Hmmm, ini baru liburan bermanfaat! Ini cerita liburanku bersama Gerakan Tunas
Bangsa, mana ceritamu???
Tulisan oleh Nailis Sa’adah
[Salah satu Mentee Gerakan Tunas Bangsa]
Jumat, 15 Maret 2019
Cerita & Pengalamanku Menyiapkan Acara Gerakan Tunas Bangsa “ Melangkah Menuju Universitas Impian”
Oleh :
Annisa Himmatul Aulia
Mentee Gerakan Tunas Bangsa
Kemarin adalah hari-hari yang kunantikan. Sudah sekitar 3
bulan lamanya kami mempersiapkan untuk acara kegiatan Tunas Bangsa yang berkaitan
dengan beasiswa dan universitas. Ada senang dan juga khawatir, senang karena
akhirnya bisa bertemu dengan narasumber yang begitu hebat, beliau Kakak Galih
Adhyatama dan senang bisa bertemu lagi dengan kakak-kakak mentor dan mentee
lainnya, kekhawatirannya adalah ini kali pertama aku terlibat secara langsung
dalam mengelola acara ini. Salah satu ketakutanku adalah jika nantinya acara
ini tidak berjalan dengan maksimal. Tetapi
Alhamdulillah, berkat kerjasama kakak mentor dan mentee semua acara ini bisa
terselenggara dengan baik.
Jadi, aku mau cerita tentang kegiatan di Tunas Bangsa.
Mulai ajaran pelajaran tahun 2018/2019, atau 4 tahun
berjalannya Tunas Bangsa, dengan jumlah mentee 36, kami dibagi menjadi 5
kelompok dan aku di kelompok 3 bersama 6 mentee lainnya dan di tiap kelompok
ada PIC nya yaitu kakak mentor yang membantu kegiatan dan untuk kelompok kami
adalah kak Atika. Kami medapatkan tugas untuk menghandle acara di bulan
Februari dengan mengangkat tema kegiatan beasiswa dan universitas. Jauh-jauh
hari kami sudah mempersiapkannya yaitu disekitar bulan Desember, karena kami
tahu butuh waktu lama untuk bisa mengorganisir suata acara dan butuh persiapan
yang sangat matang. Disamping itu pula, banyak dari anggota kelompok kami yang
sudah kelas 12 dan pastinya akan sangat sibuk dengan try out dan ujian-ujian
lainnya.
Di bulan Desember kami sudah mulai mempersiapkan untuk acara
ini dengan mulai mencari narasumber dan akhirnya kami menemukannya, yaitu Kak Galih.
Beberapa hari kemudian kami mulai menghubungi kak Galih untuk menanyakan apakah
beliau bersedia untuk hadir atau tidak, awalnya aku takut untuk menghubungi Kak
Galih. Ketakutan terbesarku adalah untuk menemukan kata-kata yang pas dan cocok
untuk berkomunikasi apalagi dengan beliau seorang yang sudah berpengetahuan
tinggi (*jadi aku harus hati-hati gitu menjaga tutur kataku J heheheh). Oke, ini mungkin challenge
buat aku supaya semakin berlatih untuk menjalin komunikasi, ternyata setelah
aku menghubungi kak Galih, beliau ini sungguh sangat welcome dan dengan
demikian nggak tahu kenapa percakapanku dengan beliau seperti mengalir dengan
sendirinya (Alhamdulillah, berhasil J) dan yang paling seneng lagi
ternyata kak Galih bersedia untuk hadir nih… (seneng banget pokoknya). Setelah
itu kami pun memutuskan tanggal untuk acara ini ditanggal 24 bulan Februari
2019.
Nah sebelum berganti tahun kami sempat musyawarah kecil-kecilan
setelah kegiatan kewirausahaan di Ponpes Al Mawaddah, kami sudah memutuskan
untuk tempat dan runtutan acara nantinya diskusi-diskusi juga sudah kami
lakukan di grup, dan akhirnya diawal bulan Februari kami memutuskan untuk meet
up di Lavina (tempat tongkrongan mentee J) dan ada beberapa perubahan mulai
dari tempat, koordinasi dan lainnya. Diputuskanlah untuk acara ini diadakan di
Perpustakaan Daerah (perpusda Kudus, salah satu tempat favorit acara Tunas
Bangsa, karena bapak dan ibu pegawainya sangat welcome banget dan mungkin juga
karena tempatnya lebih mudah diakses, (nggak terlalu jauh buat semuanya,
maksudnya).
Tanggal 24 pun tiba, malamnya mungkin salah satu malam yang
membuatku sulit buat tidur karena kepikiran terus buat besok (heheh, takut
gitu, mc noob). Nah pagi harinya sesampainya di perpusda kami mulai menata
tempat, ada beberapa kendala sehingga acara yang harusnya dimulai jam 07.30
baru bisa dimulai jam 08.00. Acara dimulai seperti biasa, pembukaan,, setelah
itu menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan habis itu salah satu mentee yaitu kak Nailis
menceritakan gimana pengalamannya mengikuti SNMPTN dan setelah acara berikutnya
adalah Ice Breaking oleh Kak Achyar yang semakin memeriahkan suasana dan
mengakrabkan antara mentee dengan kakak-kakak di luar Mentee (soalnya acara ini
open public ya. untuk kali pertama aku bergabung di Gerakan Tunas Bangsa, jadi
yang bisa ikut nggak hanya dari mentee, tapi untuk umum).
Acara selanjutnya adalah acara inti yang ditunggu-tunggu oleh
narasumber kita Kak Galih Adhyatoma, darinya kami belajar banyak hal mulai dari
perjuangan beliau untuk menempuh pendidikan dari mulaian cita-cita kecilnya, lalu saat beliau dipilih
untuk mewakili sekolah dalam pertukaran pelajar dan harus belajar dengan bahasa inggris (salah
satu pelajaran yang tidak beliau sukai, yang justru membawa beliau bisa sampai
ketitik ini, *keren kan..) juga bagaimana perjuangan beliau untuk apply
beasiswa S2 keluar negeri hingga gagal sampai 18 kali dan akhirnya ke 19
kalinya beliau berhasil diterima di Universitas of Huddersfield, UK dengan
beasiswa penuh dari Pemerintahan Inggris, setelah itu beliau melanjutkan
pendidikan S3 nya di Taylor University Malaysia setelah gagal untuk ketiga
kalinya dan baru diterima saat apply ke4 kalinya. Dari cerita beliau aku
belajar bahwa Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya tapi kegagalan adalah
awal dari kesuksesan. Dari kegagalan kita bisa belajar apa kekurangan kita dan
akhirnya kita akan menaklukkannya dan mencapai kesuksesan menurut kita. Sukses
adalah saat dimana kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya beliau juga
berpesan pada kami semua untuk tetap menjaga dan mencintai sejarah dan budaya
kita seperti pesan presiden pertama kita “JAS MERAH” beliau juga berharap agar
kami semua tetap memiliki mimpi dan cita-cita yang tinggi sekalipun itu
terlihat mustahil, karena dengan usaha dan perjuangan yang keras tidak ada
satupun hal yang tidak mungkin ( ALLAH tidak akan merubah keadaan suatu kaum
kecuali mereka sendiri yang merubahnya, QS. Ar-Ra’d/13:11) beliau juga berharap
agar pendidikan di Indonesia akan menjadi jauh lebih baik lagi kedepannya. Amiin.
Nah setelah acara inti, acara selanjutnya adalah pemberian
kenang-kenangan kepada Kak Galih yang diberikan oleh Kak Suhar dilanjutkan
dengan foto bersama, acara berikutnya adalah ISHOMA (istirahat, sholat, makan)
disela-sela makan, kami saling bercerita pengalaman kita satu dengan lainnya
mulai dari pengalaman disekolah sampai rencana-rencana kedepannya, acara
berikutnya adalah penutupan. Nah sebelum
penutupan ada penghargaan sedikit buat kakak-kakak dari luar mentee yang sudah
meluangkan waktunya untuk hadir, senang rasanya bisa berkenalan dengan mereka
yang punya semangat besar untuk sama-sama belajar dan mulai membangun masa
depan, tetap jaga tali sialturrahmi kita ya, sering datang acara kita
berikutnya ya.
Nah akhirnya selesai juga acara kita pada hari itu, perasaan
senang karena akhirnya bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya meskipun
masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki, semoga kedepannya acara Tunas
Bangsa bisa jauh lebih baik lagi dan semakin jaga kekompakan kita.
Minggu, 22 April 2018
Rencana Terbaik Tuhan
Berawal dari
beberapa Organisasi yang saya ikuti di
kelas X seperti; OSIS, Pramuka, PBN, dan lain-lain. Dari sinilah saya mulai
menerapkan apa saja yang telah di ajarkan di Tunas Bangsa. Saya mulai berani
bertanya dan mengungkapkan pendapat saya, terkadang faktor malu, takut salah,
dan takut terhadap senior sering mengganggu fikiran saya. Di organisasi Pramuka
memang terdapat beberapa senior yang
amatlah baik, hingga beberapa teman menganggap “apa karena dia
penggalang garuda di SMP? sehingga dinomor satukan disini”. “Mungkin hanya
lencana garuda yang ia kenakan, tapi apakah kualitasnya sebaik dari apa yang ia
kenakan?”. Awal dari perjalananku di SMK yang penuh dengan orang-orang hebat
dan orang-orang yang meragukanku.
Benar ini baru
awal, sehingga mereka melihat sisi luarku. Dari perkataan merekalah yang
membuat “Saya harus melakukan kinerja
yang baik di Organisasi ini”. Beberapa bulan kemudian diadakannya Pemilihan
Calon Ketua OSIS SMKN 3 Kudus tahun 2016, melihat 3 foto kandidat terpajang di
mading sekolah, dalam hati saya berkata “kapan
saya akan seperti mereka?”. Sejak itu saya mulai fokus dengan tanggung
jawab saya sebagai sekretaris OSIS di kelas X, tak lupa mengimbangi dengan
tugas di ambalan sebagai Kerani. ‘Sama-sama
bergelut di bidang Administrasi sungguh kebetulan yang indah’.
Waktu terus
berlalu dengan cepat tanpa disadari, belajar, belajar, dan belajar dalam segala
aspek. Hingga tiba saatnya untuk pemilihan ketua OSIS SMKN 3 KUDUS tahun
pelajaran 2017/2018. Dan tak kupercaya bahwa namaku yang menjadi usulan ketua
Osis periode lalu. Sungguhkah ini sebuah jawaban dari pertanyaanku?
Dan benar inilah
yang terjadi, menjadi kandidat Calon Ketua Osis di periode ini. Semangat dalam
berorganisasi pun semakin bertambah saat itu, siapapun yang akan terpilih
nantinya saya akan siap menerima. Menjadi salah satu kandidat saya sudah sangat
bersyukur, namun bukan alasan untuk
cepat puas akan apa yang belum didapatkan. Persiapan mulai dari visi
misi, kampanye, dan mental tentunya. Bagaimana organisasi kedepannya, akan saya
bawa kemana dan saya apakan jika saya terpilih. Hingga saat hari pemilihan pun
telah tiba, alur pemilhan yang dilalui dengan lancar. Perhitungan suara pun
dilakukan dan mendapatkan hasil akhir :
- Achmad Mukhoffifin : 176 suara
- Cindi Apreliani Citra Ayu N.N : 351 suara
- Bagas Adi Saputra : 441 suara
Jelas siapa yang terpilih menjadi ketua osis periode ini, bukanlah
hal yang terlalu saya pikirkan mengenai kegagalan ini.
Setelah beberapa bulan move on dengan kegagalan, akhirnya persiapan
dan pematangan kelomppok teaterku berbuah hasil saat itu. Ini hasil jerih payah
kami latihan beberapa minggu yang sangat menguras energi. Semoga ini tidak
membuat kami tinggi hati dan puas diri.
Dan benar beberapa bulan kemudian kembali saatnya pemilihan Pradana
di Ambalan. Dan tak pernah terpikirkan bahwa sayalah yang mendapat suara
tertinggi di antara kandidat lain. Tepat tanggal 21 Desember 2017 pelantikan
dilaksanakan di SMKN 3 KUDUS.
![]() |
Pelantikan Pradana Ambalan SMK 3 Kudus. |
Sebuah kesempatan yang digantikan kesempatan lain yang lebih
berharga, semangat baru dan tanggung jawab lebih yang kupikul dalam organisasi ini.
Dengan mengerahkan segala pikiran, ilmu, tenaga, kepengurusan yang terencana
dan terarah. Sembari terus bertumbuh menjadi lebih baik, sikap senang
mendelegasikan dan mengerjakan sesuatu untuk tim (anggota) tidak akan
mengurangi jatah rezeki dan ilmu yang berkah untuk saya. Sekarang saya yakin
bahwa Tuhan memiliki rencana terbaik untuk masing-masing umatnya, hanya saja
seberapa besar kita menghadapi tantangan yang berliku dan sabar untuk
menghadapi.
Saya masih belajar untuk ini, dan perlahan saya akan mampu dengan
semua itu. Saya yakin saya bisa dan kalian bisa lebih dari saya! yakin akan
kemampuan yang kita miliki.
Karya : Cindi Apreliani Citra
Ayu Neng Nera
(Mentee
Gerakan Tunas Bangsa)
Sabtu, 07 April 2018
“Sehari Jadi Relawan, Selamanya Berkesan dan Penuh Pembelajaran”
Tanggal 17 Maret 2018 Gerakan Tunas Bangsa mengadakan
sebuah acara untuk para mentee yang dinamakan “Mentee Peduli”. Acara ini
bermaksud membuat para mentee menjadi relawan sehari di masing-masing tempat
yang sudah ditentukan sebagai objek pelaksanaan kegiatan. Mentee Tunas Bangsa
dibagi menjadi 4 kelompok, kami kebagian kelompok 3 anggotanya antara lain
Nailul, Fahmi, Aina, Nailis, Erlangga, Dilla, Lily, Asnawi, Rafi, Luthfi, dan
Ika. Masing-masing kelompok mendapatkan 3 orang fasilitator, kelompok kami
dibimbing oleh kakak fasilitator yaitu kak umi, kak atika, dan kak siska.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, kami kelompok 3 mengadakan
meet up untuk membahas berbagai hal yang perlu dipersiapkan, antara lain
penentuan tempat kegiatan, rundown
acara, konsep acara, pembagian tugas, dan hal lain yang berkaitan dengan
kegiatan tersebut. Dimulai dari penentuan tempat kegiatan yang pernah mengalami
penolakan dan kebingungan menentukan sekolah yang tepat dikarenakan tanggal
pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan hari libur nasional, jadi kami
memutuskan MI Mafatihul Ulum Sunggingan sebagai tempat pelaksaan kegiatan,
mengingat kondisi MI tersebut yang memungkinkan untuk kami menjadi relawan
disana.
Ketika hari itu tiba, kami para mentee kelompok 3 segera
ke lokasi kegiatan karena adik-adik disana sudah menunggu. Kami begitu terkejut
karena melihat antusias mereka yang luar biasa, mereka menyambut kami dengan
penuh semangat, kegembiraan, dan penuh canda tawa, membuat kami menjadi semakin
bersemangat untuk memberikan motivasi dan hal-hal yang membuat mereka berkesan.
Sebelum memasuki kelas, adik-adik dikumpulkan di lapangan untuk mengadakan apel
penyambutan terlebih dahulu, setelah itu kami memberikan ice breaking dengan
melakukan joget “making melodies” bersama,
kami sangat senang karena adik-adik begitu menikmati dan bersemangat mengikuti apa
yang kita lakukan. Setelah joget-joget selesai, salah satu dari kami yaitu mentee
Erlangga menampilkan aksi pencak silat dihadapan adik-adik agar mereka
termotivasi untuk melatih kemampuan skill
yang mereka miliki.
Setelah kegiatan di lapangan selesai, adik-adik masuk ke
kelas masing-masing. Sebelumnya, kami telah sepakat membagi kegiatan ini
menjadi 2 sesi, dikarenakan adik-adik terlalu banyak jumlahnya dan kami
mengambil siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Masing-masing mentee sudah
kami bagi tugas menjadi koordinator di kelas yang sudah ditentukan. Untuk sesi
pertama, kelas 4, 5, dan 6 kami kumpulkan di aula untuk menyaksikan sesi
pemutaran video sedangkan kelas 1, 2, dan 3 berada di ruang kelas
masing-masing. Untuk sesi kedua, adik-adik kelas 1, 2, dan 3 berada di aula sedangkan
kelas 4, 5, dan 6 berada di kelas masing-masing.
Ketika sesi pemutaran video, kami menayangkan beberapa
film animasi anak-anak yang berisikan konten postif agar adik-adik bisa
termotivasi dan mengambil pelajaran di dalamnya. Oleh karena itu, setelah film
selesai diputar kami memberikan pertanyaan dan jika bisa menjawab adik-adik
diberikan hadiah. Mereka sangat antusias memperhatikan film yang ditayangkan
dan banyak yang berpartisipasi untuk menjawab pertanyaan dengan penuh
kegembiraan dan semangat. Selain itu, kami juga mengajak adik-adik bernyanyi
dan bermain games mendidik agar mereka terhibur.
Saat adik-adik berada di kelas masing-masing, kami
memberikan berbagai macam kegiatan yang mengasyikan. Bagi kelas 1 dan 2 kami
buat sesi untuk mewarnai, pendeskripsian, dan peragaan cita-cita. Ketika
kegitan mewarnai dimulai, mereka begitu antusias untuk mewarnai dengan bagus
bahkan ada yang sampai meminta gambar lagi untuk mereka warnai. Mereka
mempunyai cita-cita yang bermacam-macam, ada yang ingin menjadi dokter, polisi,
guru, dan masih banyak lagi dan ketika peragaan cita-cita adik-adik
melakukannya dengan sangat baik dan kelucuan adik-adik membuat kami tertawa
riang melihat tingkah polos mereka. Bagi kelas 3 dan 4 adalah sesi adik-adik
untuk membuat kerajinan bentuk burung-burungan dari kertas origami, kami
mengajarinya dengan penuh kesabaran dan ketelitian, karena tak mudah mengajari
adik-adik satu persatu dengan berbagai karakter yang berbeda. Sedangkan untuk
kelas 5 dan 6 kami buat sesi bercerita pengalaman dan motivasi kedepannya agar
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kami salut dengan adik-adik,
mereka begitu memperhatikan kami dengan penuh saksama, mengikuti arahan dan
bimbingan kami dengan penuh keceriaan.
Setelah semua kegiatan dilaksanakan, sesi terakhir
adik-adik membuat kritik dan saran kepada kami. Semuanya menulis bahwa
adik-adik merasa senang dengan kedatangan kami, bahkan ada sebagian dari mereka
memita kami lain waktu untuk datang lagi menghibur, memberi pelajaran dan
motivasi kepada adik-adik. Momen-momen seperti ini membuat kami merasa sangat
terkesan, terharu, dan tidak menyangka bahwa apa yang kami berikan hanya dalam
waktu setengah hari saja membuat semuanya begitu berarti. Padahal kami tak
memberikan suatu bentuk materi atau apapun, kami hanya memberikan apa yang bisa
kami bagi dan hal itu membuat adik-adik merasa termotivasi dan berharap
kedatangan kami lagi. Karena pada dasarnya “Untuk bisa berbagi tak perlu
menunggu sampai Anda berkecukupan, berbagilah mulai sekarang walaupun hanya
sebuah senyuman. Karena esensi dari berbagi adalah ketika orang lain merasa
bahagia dengan apa yang kita berikan.” Said Harly Umboh.
Setelah membuat kritik dan saran tibalah pada saat sesi
penutupan, adik-adik diminta untuk membubuhkan tanda tangan ke dalam banner
kosong sebagai kenang-kenangan dari kami dan kami juga memberikan sertifikat
kepada bapak kepala sekolah MI Mafatihul Ulum karena sudah berkenan memberikan
izin tempat untuk kami jadikan sebagai objek kegiatan “Mentee Peduli”. Setelah
itu, kami melakukan sesi foto bersama dengan adik-adik semua.
Itulah serangkaian kegiatan dari kelompok 3 dalam
kegiatan “Mentee Peduli” kali ini, dari sini kami belajar bahwa menjadi relawan
itu tidak mudah, dibutuhkan kesabaran menangani adik-adik apalagi yang masih
berusia kecil. Selain itu, terkadang ada juga dari mereka yang tidak mau
memperhatikan kami, tidak mau menurut, dan sering keluar masuk kelas membuat
kami kewalahan mengatasinya. Tapi, hal itu tak menjadi masalah karena kami
melakukannya dengan senang hati dan dengan niat yang ikhlas. Melihat adik-adik
semua senang, kami pun juga merasa senang. Apapun yang kami berikan semoga
bermanfaat bagi adik-adik semua dan membuat kami terkhususnya Mentee Gerakan
Tunas Bangsa menjadi semakin aktif, kreatif, dan bertanggungjawab dalam
menjalankan tugas yang sudah diamanahkan. Keep spirit untuk semua.
Selasa, 13 Februari 2018
Bermimpilah, Berusahalah, Bersyukurlah dan Berubahlah
‘Bermimpilah selagi mimpi itu gratis’ kata
itu pasti sudah tidak asing di telinga kita, tapi banyak sekali yang menganggap
remeh tentang mimpi contoh aja deh pasti kita pernah denger ada temen yang
berkata seperti ini “jangan mimpi tinggi-tinggi nanti kalau jatuh sakit” kalau
di bahasa jawanya tuh kaya gini “ojo mimpi duwur- duwur, ngko nek tibo malah
loro, ujung-ujunge paleng yo koyo mgkono ncen” padahal kalau kita lihat dan
baca tentang biografi orang-orang hebat, mereka bisa menjadi orang yang hebat
seperti ini karena awalnya mereka memulai dengan bermimpi, mereka mulai
bermimpi dan merancang semua hal yang ingin mereka capai di masa depan seperti
lagunya Nidji “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia” mimpi bisa
merubah seseorang yang awalnya biasa saja menjadi seseorang yang luar bisa.. begitu
hebatnya mimpi jadi mulai dari sekarang…. berMIMPIlah!!!!!
Banyak juga diantara kita yang
sebenarnya punya mimpi dan keinginan besar, tapi gara-gara perkataan orang lain
yang seperti diatas tadi membuat kita tidak yakin bisa mewujudkan mimpi kita,
kita akan menganggap bahwa hal itu mustahil untuk kita dapatkan, itu artinya
sama saja kita ‘kalah sebelum berperang’
gimana mau perang, orang nyiapin strategi aja enggak kok, apa lagi mau menang!
Jadi kuncinya lagi-lagi adalah berMIMPI!! Kalau kita udah mulai untuk
bermimpi,, setidaknya kita selangkah lebih maju dari orang yang enggan untuk
bermimpi dan kita lebih siap untuk meraih masa depan kita. Kita harus OPTIMIS
bahwa apa yang kita inginkan pasti bisa tercapai, tutup telinga dengan rapat
saat orang lain menganggap impian kita terlalu aneh,, terlalu tinggi dan
berlebihan.. jadikan itu sebagai penyemangat dan buktikan pada mereka kalau
kita bisa meraih impian itu. Salah satu kisah sukses dari Walter Elias Disney,
pendiri Walt Disney tersebut meraih kesuksesannya tidak dengan sekejap mata, ia
harus melewati pahit dan getir nya perjalanan hidup, melewati banyaknya
kegagalan dan selalu bangkit setelah jatuh.
Sebagian orang
yang sebenarnya juga punya potensi dan keinginan namun terhalang oleh sesuatu
hal, misalnya saja faktor ekonomi pasti akan berfikir ulang apakah dia bisa
mewujudkannya atau tidak dan lagi-lagi kebanyakan pasti akan banyak mimpi yang
harus terkubur dan mati, berapa banyak cerita yang kita dengar seperti BOIMIN,
apa beliau dari keluarga kaya? Tidak! Beliau hanya hidup dari keluarga yang
dibilang juga pas-pasan, tapi karena tekad dan kerja kerasnya akhirnya beliau
bisa bersekolah tinggi hingga keluar negeri Dan cerita-cerita lain.. yang masih
banyak lagi.. lalu apa yang harus kita khawatirkan? Asalkan kita yakin dan
berusaha semaksimal mungkin serta menyerahkan semuanya kepada ALLAH, maka tidak
ada satu hal pun yang tidak mungkin.
Ya.. bagaimana kalau kita sudah
bermimpi, yakin, berusaha semaksimal mungkin dan telah menyerahkan semuanya
kepada ALLAH lalu apa yang kita inginkan tidak jua tercapai?
~Sesuatu yang kamu anggap baik,, belum tentu baik untukmu dan sesuatu yang
kamu anggap buruk, belum tentu buruk untukmu~
Bisa menjadi salah satu perwakilan madrasah untuk
mengikuti bimbingan dosen dari Universitas Negeri Semarang adalah salah satu
hal yang membahagiakan bagiku, aku bisa menambah pengetahuan, penagalaman dan
membuka wawasan ku ke dunia luar. Salah satu pelajaran yang dapat aku
ambil adalah mengenai mimpi,, dan juga mengenai keadaan pendidikan di
Indonesia,,
Indonesia negara
yang kaya raya,, salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar serta
negara dengan jumlah muslim terbanyak sedunia. Sebagai seorang muslim,, kita
pasti tahu bahwa hal yang diperintahkan oleh ALLAH S.W.T. yang pertama kali
sebagai wahyu kepada Rasulullah SAW adalah اقراء Bacalah! Ya.. mungkin semua umat muslim di
Indonesia sudah mengamalkan perintah tersebut misalnya kita akan membaca
QUR’AN, buku ensiklopedia, atau buku yang lainnya. Dan semua itu pastilah
menurut kita sudah cukup,, “aghhh... aku kan udah baca it’s enough” tapi justru
hal tersebut lah yang menjadikan pendidikan di Indonesia tidak bisa menyaingi
bangsa-bangsa luar.. bagaimana tidak.. Kita kurang jeli dalam membaca, ketika
kita telah membaca buku, semuanya selesai kita hanya bisa menjadi user dari buku-buku
terbitan orang luar kita tidak bisa mejadi researcher seperti mereka. Padahal
membaca tidak selalu semuanya dari buku, yang menjadikan negara di luar
memiliki pendidikan yang jauh lebih maju adalah cara membaca mereka,, mereka
tidak hanya membaca dari buku tapi mereka juga membaca dari fenomena alam yang
akhirnya mereka menemukan konsep dan teori pemebelajaran baru. Yang membuat
mereka bisa menjadi seorang ilmuwan hebat contohnya adalah ARCHIMEDES, beliau
menemukan HUKUM Archimedes
dari mana? Apakah setelah membaca beliau menemukannya? Tidak! Beliau
menemukannya justru ketika sedang mandi hingga mengakibatkan beliau girang
bukan main dan segera memberitahukan pada sang raja padahal saat itu beliau
kondisi sedang mandi?? Eureka!
Eureka!
Ada juga ilmuan lain, NEWTON yang menghasilkan
HUKUM Newton. Mereka semua menemukan hal tersebut pastinya butuh proses yang
juga sangat panjang, mereka lebih mengutamakan proses, berbalik dengan kita
yang kebanyakan lebih menghargai hasil inilah yang mengakibatkan banyak ilmuan
yang justru muncul dari negara luar. Kalau kita lihat di sekian banyak mata
pelajaran pasti semua atau sebagian besar hukum atau teorinya ditemukan oleh
orang asing... kapan nama orang indonesia bisa muncul?? Apakah kita harus
mengganti nasi dengan roti supaya kita bisa menjadi seperti merekaa?
Mengenai QUR’AN.. kitab umat muslim yang pastinya
semua umat muslim juga membacanya setiap hari (Insyaallah), tapi setelah
membaca ya sudah, keingintahuan kita tentang kitab kita sendiri masih
kurang..padahal diluar sana para ilmuan yang nonmuslim berlomba-lomba untuk
meneliti QUR’AN ya.. walaupun mereka mungkin tidak bisa membaca nya tapi mereka
bisa membaca dari terjemahannya dan mengaitkan nya dengan ilmu pengetahuan
melalui suatu penelitian dan mereka pun sangat terkagum-kagum dengan al-QUR’AN
dan tidak mengherankan banyak sekali ilmuan nonmuslim yang menjadi Muallaf
setelahnya..
Kapan kita bisa seperti mereka? Menumbuhkan rasa
keingintahuan yang sama? Dan memajukan bangsa kita menjadi lebih baik lagi, apa
mungkin hanya B.J. HABIEBIE yang mampu menghasilkan teori crack progression apakah dari
sekian ratus juta penduduk Indonesia hanya HABIEBIE yang terkenal sebagai salah
satu orang Genius?? yang karya-karya beliau bisa membawa perubahan tidak hanya
di Indonesia tetapi juga di DUNIA, Setelah B.J. HABIEBIE siapa? .. semuanya ada
di tangan kita.. kita yang akan menggantikan para pendahulu kita.. kalau kita
tidak memulai berubah dari sekarang lalu kapan lagi?
Hal diatas adalah satu pelajaran lagi yang sangat
berharga bagiku.. Terima Kasih Bapak Ulung.. semoga hal yang telah bapak
sampaikan tadi bisa bermanfaat utamanya bagi diri saya sendiri untuk bisa
berubah menjadi lebih baik lagi.. semoga semua yang saya mimpikan dan
cita-citakan bisa terwujud begitu juga dengan kalian.. Aamiin
~not SARA~
Ditulis Oleh : Annisa Himmatul Aulia
Mentee Gerakan Tunas Bangsa
Selasa, 16 Januari 2018
MENTEE, MENTOR & DONATUR
Suhariyanto03.10Karya Mentee, Kegiatan, Motivasi, Pengembangan Mentee, Tulisan Mentee
Tidak ada komentar

Oleh : Annisa Himmatul Aulia
Mentee Gerakan Tunas Bangsa
![]() |
Annisa bersama seluruh keluarga besar Gerakan Tunas Bangsa |
Hari ini ahad 7 Januari 2018 adalah ketiga kalinya aku mengikuti kegiatan Gerakan Tunas Bangsa, dan bisa tergabung dalam gerakan ini adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Disini aku mendapatkan banyak hal yang tidak bisa kutemukan di tempat lain. Kami diajari banyak hal, mulai dari kepemimpinan, cara berdebat yang baik, kami mendapatkan banyak sekali motivasi dari para kakak mentor, diberi banyak sekali info beasiswa serta menjadikan kami mulai berfikir lebih jauh tentang masa depan kami, menjadikan kami tidak mudah menyerah untuk bisa mewujudkan apa yang kami cita-citakan dan kami impikan. Tidak hanya itu, kami diajari bagaimana peduli terhadap orang lain, peduli terhadap waktu, peduli pada diri sendiri, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan masih banyak lagi.
Di Gerakan Tunas Bangsa ini aku menemukan keluarga baru yang sama-sama punya tekad dan kemauan besar untuk maju. Disini aku bisa mengenal kakak-kakak mentor yang sangat baik, bagiku mereka bukan sekedar orang yang sangat baik tapi juga sangat menginspirasi. Mereka seperti seorang sahabat tempat dimana adik-adik mentee bisa bercerita dan menceritakan semua masalah yang kami alami. Mereka seperti orang tua bagi kami, orang yang mengayomi kami dengan sepenuh hati dan mengarahkan kami menjadi orang yang lebih baik lagi. Kakak-kakak mentor inilah yang rela meluangkan waktu, tenaga juga pikiran demi kemajuan adik-adik mentee. Mereka berbagi banyak hal kepada kami tentang bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik juga bagaimana cara kita memaknai hidup. Mereka juga berbagi ilmu dan juga pengalaman yang pernah mereka alami, mereka dengan tulus ikhlas memberikan ini semua kepada adik mentee yang akan menjadi bekal kami di masa depan.
“Semoga bibit yang kakak sirami dan kakak pupuk tumbuh menjadi pohon rindang yang mampu meneduhi semua yang ada dibawahnya dan mampu menumbuhkan bibit-bibit baru yang berkualitas serta unggul”
Di Gerakan Tunas Bangsa ini, kami juga bisa belajar dari para donatur yang ikhlas menyisihkan sebagian yang mereka miliki untuk kami. Di zaman seperti ini, orang umumnya akan lebih mementingkan dirinya sendiri, namun mereka inilah yang mau berbagi dengan kami, bahkan walaupun mereka tidak mengenal kami. Terima kasih untuk kakak-kakak donator, kami para mentee akan menggunakan donasi yang kakak berikan dengan sebaik-baiknya dan semoga Tuhan membalas kebaikan kakak donatur dengan sesuatu yang lebih baik aamiin.
Aku berharap kedepannya nanti akan bisa menjadi seperti mereka, kakak-kakak mentor dan kakak-kakak donatur, aku ingin sukses seperti mereka bukan hanya sukses untuk diri sendiri, namun kesuksesanku ini dapat dirasakan oleh orang lain serta dapat bermanfaat untuk orang lain.
Harapanku kedepannya nanti, semoga para mentee di masa datang akan mampu mengubah wajah Indonesia menjadi lebih baik lagi dan mampu menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa juga dunia. Aamiin…
Mulai Melangkah Jauh Menerima Amanah
Oleh : Naila Rahmaniyatul Wulida
Mentee Gerakan Tunas
Bangsa
![]() |
Mentee Naila Dilantik Menjadi Ketua IPPNU |
Malam 8 desember 2017 adalah malam dimana saya akan
dilantik menjadi ketua Ippnu Desa Karangmalang. Jantung sangat berdebar dan
penuh kegelisahan dibalik senyuman dan kegembiraan didepan orang-orang. Saya
selalu berfikir seketika, bagaimana saya bisa menjadi ketua, apakah saya bisa,
bagaimana nanti dengan hantaman-hantaman yang akan datang, apakah saya bisa
melewatinya, dan banyak lagi aku merenung. Namun semua itu hanya sia-sia saya
pikirkan, saya harus bisa memotivasi diri sendiri dan mulai bangkit dengan hal
baru yang akan memberikan saya banyak pengalaman dan pelajaran berharga.
Tiba saatnya aku bersaksi, berjanji dan mengatakan
lafadz-lafadz dalam sekertas pelantikan. Sedikit gemetar aku tutupi dengan
ketegasan dan kekuatan memulai langkah baru menjadi ketua. Pelantikan itu saya
dan teman-teman adakan bersamaan pengajian Maulid Nabi di lingkungan masyarakat
desa. Mungkin saya mengejutkan ibu dan keluarga lainnya ketika menaiki
panggung, memakai jaz hitam dan dilantik menjadi ketua.
Banyak masyarakat yang berkomentar positif tentang
saya dan memotivasi saya, saya anak orang biasa yang tak banyak dikenal orang
apalagi orang tua saya, setelah pelantikan itu banyak bertanya-tanya anak siapa
itu? Dan nama bapak-ibu saya mulai disebut-sebut. Bahagianya saya ketika
bapak-ibu saya mulai terkenal dan dikenal sebagai orang tua hebat karena
dibalik kehebatan anak-anaknya ada jasa dan pengorbanan orang tua yang berhasil
mendidik anaknya.
Sebuah tanggung jawab
dan amanah yang berat bagi saya karena baru pertama saya benar-benar akan
menghadapi masyarakat langsung setelah resmi menjadi ketua Ippnu Desa
Karangmalang. Menjaga anggota-anggotanya, menyayangi dan memperhatikan mereka,
mengayomi dan memajukan desa Karangmalang. Saya dan teman-teman akan mulai
melangkah melaksanakan beberapa progam kerja yang kebanyakan langsung terjun ke
masyarakat. Kami siap menghadapi setiap rintangan, ocehan dan apapun itu.
Semoga sukses dalam menjalani semua tanggung jawab ini selama 2 tahun, berjuang
di jalan Allah dan mempertahankan kebenaran. Amiin
Selasa, 19 September 2017
Buah Manis dari Sebuah Perjuangan
“HASIL TIDAK AKAN MENGHIANATI PROSES” sebuah ungkapan yang tidak asing lagi di
telinga kita. Tertanam dengan rapi lewat berbagai figur dalam diri kita, ungkapan
sederhana yang menjadi sebuah pedoman bagaimana kita bertindak, menghadapi masalah,
dan juga bagaimana kita melakukan hal terbaik dalam usaha berjuang. Terkadang
kita terlena dan mudah menilai sebuah hasil tanpa melihat bagaimana latar
belakang proses tersebut. Manakah yang penting? Proseskah? Hasilkah?
Hari itu merupakan sebuah kejutan bagi saya
berkesempatan menduduki peringkat yang mana peringkat tersebut adalah peringkat
yang di idam-idamkan oleh semua peserta lomba esai. Sebuah harapan yang hampir
sirna karena kelalaiannya saya sendiri. Waktu itu saya terlambat mengirimkan karya
saya dari dateline yang sudah
ditentukan oleh panitia. Perasaan kecewa sempat menghampiri karena sudah jauh-jauh
hari saya mempersiapkan semuanya. Hanya karena kurang teliti membaca waktu yang
ditentukan oleh panitia untuk pengiriman karya masing-masing peserta. Entah
kenapa diri ini tidak bisa menerima dan menyerah begitu saja, setelah sempat
menghubungi panitia penyelenggara dan saya dapatkan jawaban dengan lembutnya kalau sudah ditutup
terdengar begitu renyah dengan selingan kata penyemangat. Akan tetapi dengan bermodal
nekad dan didukung oleh keyakinan yang kuat saya berusaha memperjuangkan apa
yang sudah saya usahakan, tidak ada perasaan ragu sedikitpun untuk mengirimkan
karya saya walaupun saya tau saya sudah terlambat dan panitia sudah menutupnya.
Sebuah momen indah saya dapatkan dengan penuh
rasa syukur saya ikut berpartisipasi dalam event Pekan Inspirasi Kudus dalam mata lomba menulis
esai. Pada dasarnya semua yang kita lakukan dengan dasar kebaikan dan niat yang
benar sekecil apapun tidak akan sia-sia, hari ini, esok, ataupun lusa pasti kita akan
memanennya. Nikmati setiap proses yang kita jalani dan lakukan dengan
sungguh-sungguh karena disitu pula kita dinilai seberapa pantaskah kita mendapatkan
hasil yang kita inginkan. Jangan takut mencoba karena menoba merupakan
pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk meng-upgrade diri kita, jangan takut salah karena lewat kesalahan lah kita
belajar arti pantang menyerah, kalau gagal langsung hijrah putar haluan
mencapai yang lebih tepat untuk diri kita. Proses lebih penting karena kembali
ke awal bahwa “HASIL TIDAK AKAN MENGHIANATI PROSES”.
Penulis :
Setya Wardani (Mentee Gerakan Tunas Bangsa)
Senin, 26 Juni 2017
Kejarlah Mimpi & Raihlah Cita-Citamu
gerakantunasbangsa16.40Karya Mentee, Kegiatan, Motivasi, Pengembangan Mentee, Tulisan Mentee
Tidak ada komentar

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Hai teman-teman, bagaimana suasana Hari Raya Idul Fitri tahun ini? Semoga tambah menyenangkan ya. Saya mau mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum Taqobbal Ya karim, minal ‘aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.
Saya Yusrotul Rusda, salah satu mentee gerakan tunas bangsa dari SMA 2 Kudus. Saya ingin menceritakan kegiatan yang sangat menyenangkan pada tanggal 23 Juni 2017 yaitu acara buka bersama gerakan tunas bangsa yang diadakan di Aula MAN 2 Kudus. Jadi, buka bersama kali ini di hadiri oleh mentee, mentor, dan donatur yang membuat suasananya sangat ramai dan menyenangkan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh inisiatif teman-teman mentee yang bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi keluarga besar gerakan tunas bangsa.
Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB diawali dengan pembukaaan dari MC dilanjutkan dengan tahlil, sambutan-sambutan (ketua panitia, perwakilan mentor, dan perwakilan donatur), materi tentang passion, sesi tanya jawab, dan akhirnya acara inti yaitu buka bersama.
Pada waktu acara materi tentang passion, ada satu cerita yang membuat saya sangat termotivasi, yaitu cerita pengalaman dari kak Habibah, salah satu donatur dari gerakan tunas bangsa, sebenarnya cerita dari semua kakak- kakak mentor juga sangat menarik, akan tetapi mungkin karena saya berada di depan pintu aula jadi, tidak terlalu terdengar dan tidak fokus, akhirnya saya pindah menuju ke depan.
Kak Biba bercerita tentang perjalanan dan perjuangannya meraih cita-cita
Cerita yang membuat saya sangat terharu dari Kak Habibah adalah lika-liku perjuangan beliau untuk menggapai impiannya yang menurut saya merupakan suatu benteng yang harus ditembus dengan usaha yang tidak semua orang bisa melakukannya. Banyak sekali yang beliau ceritakan, mulai dari lulus SMA yang tidak diperbolehkan orang tuanya untuk kuliah karena faktor biaya, bekerja sebagai buruh di Pizza Hut, hingga akhirnya beliau dapat melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Jakarta dan mendapatkan gelar sarjana. Tidak hanya sampai disana, kemudian Kak Habibah melanjutkan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia. Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah begitu besarnya tekad dari seseorang yang berasal dari desa yang berusaha mengejar impiannya dengan kondisi ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Hingga akhirnya pada sesi tanya jawab, saya bertanya kepada Kak habibah. “Bagaimana cara kakak menghadapi celaan dari orang-orang yang tidak mendukung kakak, bahkan ingin menjatuhkan kakak?.” Kemudian kak Habibah menjawab pertanyaan saya, “omongan mereka lah yang menjadi motivasi kakak untuk membuktikan kepada mereka bahwa kakak mampu untuk mewujudkan impian kakak, dan kakak tidak peduli apa yang mereka katakan kepada kakak.”
Dari kisah beliau saya dapat menyimpulkan bahwa, cita-cita itu harus dibangun oleh diri kita sendiri. Bukan orang lain, atau kemampuan maupun pendidikan orang tua yang menjadikan kita sukses. Tapi usaha, kerja keras, dan semangat kita dalam meraih kesuksesan tersebut. Saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak mentor yang sudah memotivasi saya dan teman-teman yang sudah bekerja sama dalam terselenggarakannya acara bukber keluarga besar gerakan tunas bangsa.
Satu puisi dariku tentang sebuah impian yang harus dikejar.
Hai teman-teman, bagaimana suasana Hari Raya Idul Fitri tahun ini? Semoga tambah menyenangkan ya. Saya mau mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum Taqobbal Ya karim, minal ‘aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.
Saya Yusrotul Rusda, salah satu mentee gerakan tunas bangsa dari SMA 2 Kudus. Saya ingin menceritakan kegiatan yang sangat menyenangkan pada tanggal 23 Juni 2017 yaitu acara buka bersama gerakan tunas bangsa yang diadakan di Aula MAN 2 Kudus. Jadi, buka bersama kali ini di hadiri oleh mentee, mentor, dan donatur yang membuat suasananya sangat ramai dan menyenangkan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh inisiatif teman-teman mentee yang bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi keluarga besar gerakan tunas bangsa.
Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB diawali dengan pembukaaan dari MC dilanjutkan dengan tahlil, sambutan-sambutan (ketua panitia, perwakilan mentor, dan perwakilan donatur), materi tentang passion, sesi tanya jawab, dan akhirnya acara inti yaitu buka bersama.
Pada waktu acara materi tentang passion, ada satu cerita yang membuat saya sangat termotivasi, yaitu cerita pengalaman dari kak Habibah, salah satu donatur dari gerakan tunas bangsa, sebenarnya cerita dari semua kakak- kakak mentor juga sangat menarik, akan tetapi mungkin karena saya berada di depan pintu aula jadi, tidak terlalu terdengar dan tidak fokus, akhirnya saya pindah menuju ke depan.
Kak Biba bercerita tentang perjalanan dan perjuangannya meraih cita-cita
Cerita yang membuat saya sangat terharu dari Kak Habibah adalah lika-liku perjuangan beliau untuk menggapai impiannya yang menurut saya merupakan suatu benteng yang harus ditembus dengan usaha yang tidak semua orang bisa melakukannya. Banyak sekali yang beliau ceritakan, mulai dari lulus SMA yang tidak diperbolehkan orang tuanya untuk kuliah karena faktor biaya, bekerja sebagai buruh di Pizza Hut, hingga akhirnya beliau dapat melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Jakarta dan mendapatkan gelar sarjana. Tidak hanya sampai disana, kemudian Kak Habibah melanjutkan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia. Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah begitu besarnya tekad dari seseorang yang berasal dari desa yang berusaha mengejar impiannya dengan kondisi ekonomi keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Hingga akhirnya pada sesi tanya jawab, saya bertanya kepada Kak habibah. “Bagaimana cara kakak menghadapi celaan dari orang-orang yang tidak mendukung kakak, bahkan ingin menjatuhkan kakak?.” Kemudian kak Habibah menjawab pertanyaan saya, “omongan mereka lah yang menjadi motivasi kakak untuk membuktikan kepada mereka bahwa kakak mampu untuk mewujudkan impian kakak, dan kakak tidak peduli apa yang mereka katakan kepada kakak.”
Dari kisah beliau saya dapat menyimpulkan bahwa, cita-cita itu harus dibangun oleh diri kita sendiri. Bukan orang lain, atau kemampuan maupun pendidikan orang tua yang menjadikan kita sukses. Tapi usaha, kerja keras, dan semangat kita dalam meraih kesuksesan tersebut. Saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak mentor yang sudah memotivasi saya dan teman-teman yang sudah bekerja sama dalam terselenggarakannya acara bukber keluarga besar gerakan tunas bangsa.
Satu puisi dariku tentang sebuah impian yang harus dikejar.
The Dream
Aku melangkah menyusuri jalan...
Berjalan terus walaupun terseok
Sesekali aku berhenti,
Tapi bukan karena aku lelah
Banyak batu membuatku tersandung
Banyak bisikan yang menyuruhku berhenti
Banyak yang bilang sia-sia aku berjalan
Tapi mungkin langkahku lebih kuat dari bisikan itu
Kuturuti langkah kakiku..
Berjalan... bahkan aku diajaknya berlari
Menghampiri impian yang sudah menghadangku di depan
Menyusul masa depan yang terlihat cemerlang
Bagaikan langit yang dihiasi oleh pelangi
Bagaikan mawar yang mekar menemani mentari
Bagaikan udara yang terhirup di fajar hari
Aku disini tidak meluberkan tangis
Tidak diam, mengoyak, bahkan memberontak
Tapi aku tegap
Menjemput sang ribuan mimpi,
Yang terlihat menjulang dari bumi